1 Desember 2011

Ya Begitulah

21 November 2011, tepat 22.30 WIB.
Para penonton beranjak pulang dari lapangan tempat nonton bareng. Kita harus menghadapi kenyataan. Kenyataan harus kita hadapi. Malaysia kembali mengungguli kita.

Sejenak kupandangi langit. Masih langit yang sama seperti malam kemarin. Ketika esok terbangun kembali. Hidup akan berjalan seperti biasa. Orang Indonesia memang cepat melupakan masalah. Atau kekalahan ini bukanlah suatu masalah? Toh kita sudah terbiasa kalah bukan?.

Para penarik becak akan kembali mendorong becaknya.
Para penarik ojek akan kembali saling berebut sewanya.
Para supir angkot akan kembali memarkir angkotnya di tempat yang salah.
Para pelajar akan kembali pergi ke sekolah untuk bermain.
Para analis akan menganalisa dimana salah RD. Apa yang seharusnya tidak dia lakukan. Apa yang seharusnya ia lakukan.
Para penikmat forum akan kembali bertukar kata kata caci dan maki dengan pendukung lawan.
Para petaruh? Menyesali kenapa tidak bertaruh hanya 90 menit saja.
Setidaknya hidup akan terus berjalan. Hal ini berlaku untuk aku, kamu, mereka. Juga untuk Gunawan dan Ferdinand yang gagal eksekusi bola.
Ya begitulah….

Gelora Kok Sepi Ya?

Tidak hanya saat kemenangan mendatangi
saat kejayaan menghampiri
saat segalanya tampak mudah
saat semuanya benar tanpa salah
Tidak hanya pada saat itu…

Tapi juga saat semua kesulitan mendera
saat luka masih terus berdarah
saat jatuh serta babak belur
saat bangkit namun tiada tangan terulur
Aku akan tetap kembali…

Bukan hanya sekali, dua kali atau tiga kali
tapi selalu, hanya untuk mendukungmu

Untuk berkibarnya Sang Saka
Untuk Garuda di dada
Dan untuk Indonesia Raya

… Hiduplah Indonesia Raya …

Maukah Denganku?

Disetiap muram yang gelapkan jalan,
kaulah pelitaku …

Aku tahu,
akan ada saat – saat sulit ketika kamu ingin keluar dari semua ini.
Aku tahu itu,
tapi aku aku tahu juga, jika aku tidak mengatakan ini,
aku akan menyesalinya sepanjang hidupku
Karena aku tahu,
kau adalah satu – satunya dalam hatiku dan aku menjamin itu

Dan aku hanya ingin bertanya,
maukah denganku?

Elang

Aku ingin terbang
Aku ingin hidup seperti elang
Aku tahu tak seharusnya aku merasa seperti ini
Tapi terbang, membumbung tinggi lebih dari yang lainnya
Itulah yang dinamakan hidup
Bentang sayapku, sentuh awan
Keras, hitam, kuat, tajam, serta percaya dan bertekad baja
Tak akan goyah, yakin akan kekuatan sendiri

Satu-satunya jalan untuk dapat percaya, adalah percaya
Jangan pernah ragu pada semua yang engkau hikmati

Suatu hari aku akan terbang tinggi, membumbung jauh di angkasa

Kubentang sayapku, kusentuh awan
Terbang, tinggi, melebihi yang lainnya…